Senin, 12 Maret 2012

Satu Cangkir Kopi

Satu cangkir kopi kental hangat, beberapa potongan makanan cepat saji, dan suasana langit sore yang teduh di sebuah kedai kopi tak jauh dari tempat tinggalku. Di sinilah cerita ini bermulai. Bukan bercerita yang sebenarnya yang dimaksudkan. Hanya mengulang dan membayangkan dalam angan-angan memori mengenai sesuatu yang dinamakan histori dan suatu hari nanti.

Beberapa bulan belakangan, banyak hal yang mengambang dalam benak. Mengambang bukan berarti tenggelam ataupun melayang. Mengambang dalam artian telah jelas terlihat, namun masih ragu untuk menerjemahkan. Bukan berarti terlalu banyak basa-basi yang harus dilibatkan, namun sekedar pengantar dan acuan agar perilaku tetap pada hakikatnya.

Kemarin, kehilangan seseorang yang merupakan panutan dalam hidup, seseorang yang sangat menghargai dan dihargai, bukan merupakan hal yang biasa. Bahkan terlalu sakit untuk sekedar mengingat atau mengenang. Bukan, bukan tidak mau mengenang, toh pasti akan selalu dikenang. Namun terlalu malu karena belum sempat memberi apapun untuk beliau. Belum sempat membuat beliau bangga akan kelebihan kita. Belum sempat membuat beliau tersenyum.

Beliau merupakan orang cuek terhadap anak-anaknya. Ya, setidaknya itulah yang anak-anaknya lihat, dan mungkin menurun kepada mereka. Setiap hari bertemu dan selalu berpapasan, baik pagi maupun malam, beliau jarang mengajak berbincang. Hanya obrolan biasa saja seperlunya. Namun yang anak-anaknya tau belakangan ini dan baru menyadarinya, beliau merupakan orang yang protektif. Jika salah satu anaknya larut malam belum pulang ke rumah, beliau selalu menanyakan kepada istrinya kemana perginya sang anak. Dan marah kepada istri karena sang anak laruut malam belum pulang ke rumah. Namun di depan anaknya, beliau bersikap acuh. Satu lagi, ketika subuh, beliau selalu berkata kepada sang istri untuk membangunkan anak-anak dan mengingatkan apakah mereka sekolah atau kuliah pagi. Maka tidak heran jika sang istri terbilang cerewet kepada anaknya, karena diingatkan oleh sang suami.

Terpukul? sangat terpukul. Bahkan jika ada kata-kata lain yang dapat menggambarkannya, itulah rasanya. Naif rasanya bila tidak mengakuinya. Rasa kehilangan, rasa menyesal, dan rasa kerinduan. Itulah yang dapat digambarkan. Walaupun terlihat tegar dan kuat di depan banyak orang, tapi ketiga rasa itu selalu menyelimuti hati dalam benak ini.

Banyak ucapan janji yang telah lama diucapkan demi beliau, walaupun belum sempat terlaksana, pasti akan dibuktikan suatu hari nanti. Pasti. Bukan hanya kepada beliau, namun kepada seluruh keluarga. Kalimat terakhir sebelum kopi dalam cangkir ini habis, "Ayah, semoga engkau tenang di sana dan tersenyum melihat aku di sini."
Selengkapnya....